Dialektika Glokalisasi dalam JKT48

JKT48 official theater

Budaya lokal merupakan identitas masyarakat yang sangat dijunjung tinggi sesuai dengan nilai-nilai dan konteks yang berlaku ditempat itu. Glokalisasi muncul ketika budaya lokal yang dipegang oleh kelompok masyarakat berinteraksi dengan budaya global yang dibawa oleh derasnya arus globalisasi. Proses Glokalisasi sebenarnya bisa terjadi ketika budaya local menjadi global atau sebaliknya, budaya global yang disesuikan dengan budaya local.

Glokalisasi diperkenalkan oleh Roland Robertson pada tahun 1977 dalam konfrensi “Globalizationand Indigenous Culture”. Secara umum glokalisasi adalah penyesuaian produk global dengan memasukkan karekter-karakter-karakter lokal didalamnya. Ada juga yang berpendapat, glokalisasi adalah berfikir global dan bertindak local, atau budaya local akan menyerap pengaruh-pengaruh budaya global dan memperkaya budaya (lokal) tersebut. Glokalisasi menolak hal-hal yang bersifat sangat asing, menyaring budaya tersebut, dan dinikmati dalam bentuk yang disesuaikan.

Kajian glokalisasi ingin menunjukkan bahwa saat ini tengah berlangsung perubahan dan pergeseran kultur yang luar biasa oleh  masyarakat kontemporer dalam skala global. Glokalisasi dipandang sebagai proses dialektika, sintesis antara “globalisasi” dan “lokalisasi”. Oleh karena itu Glokalisasi bukanlah pertentangan antara globalisasi dan lokalisasi, tapi keduanya berjalan bersama-sama.

Glokalisasi dalam konteks Indonesia terjadi pencampuran budaya dalam ekonomi kreatif seperti dilakukan pada musik, film, makanan, pakaian, bahasa dan lainnya. Dalam bidang budaya dapat dilihat bahwa, bentuk glokalisasi budaya popular saat ini hampir semuanya dikemas dalam budaya lokal, Salah satunya adalah JKT48.

Tentang JKT48

JKT48 merupakan bentuk budaya yang kontemporer, dimana hadir dengan ciri khasnya mewarnai industri musik Indonesia beraliran J-pop. Kemunculanya tahun 2011, berhasil menciptakan sebuah hegemoni budaya Jepang secara masif. JKT48 adalah bentuk idol grup yang berafiliasi atau “sister” dari sebuah kelompok idol grup Jepang bernama AKB48.

AKB48 sendiri merupakan kepanjangan dari Akihabara, dan grup ini memang dikonsepkan sebagai kelompok idol yang melakukan performa teater di Akihabara, Tokyo, Jepang. Sedangkan JKT48 merupakan kependekan dari kata Jakarta, ibukota Indonesia. Idol Grup tersebut memiliki banyak anggota atau disebut member. Kurang lebih 59 orang yang dibagi menjadi 4 Tim yaitu tim J, tim K3, tim T, dan tim Trinee.

Berawal dari adanya AKB48 yang ingin melakukan ekspansi bisnis ke luar Jepang dan didukung oleh program pemerintah Jepang “Cool Japan” AKB48 bisa mewujudkan hal tersebut. Hal itu didukung dengan adanya pasar yang menjanjikan untuk menjual produk budaya Jepang di Indonesia serta kejelian melihat celah bisnis yang belum ada di Indonesia. Cool Japan sendiri adalah sebuah program dari Ministry of Economy, Trade and Industry yang bertujuan untuk menyebarkan dan menjual produk budaya Jepang untuk memenuhi kepentingan ekonomi Jepang dan menguatkan pengaruh Jepang di dunia. Di Indonesia AKB48 yang diproduseri oleh Yasushi Akimoto berhasil membawa sesuatu yang baru melalui JKT48 dan menjadi angin segar unutk disukai oleh kebanyakan masyarakat Indonesia terutama remaja bahkan orang dewasa.

JKT48 yang beranggotakan perempuan muda Indonesia, dilatih dengan prinsip-prinsip Jepang untuk menjadi seorang idola yang bisa dijadikan panutan bagi banyak orang. Hal ini menjadi menarik karena sebelumnya masyarakat Indonesia memang bisa menerima produk-produk Jepang dengan mudah seperti anime (kartun Jepang), Manga (komik Jepang) atau superhero Jepang yang sudah sangat populer mulai dari tahun-90an. Dengan adanya budaya populer Jepang yang sebelumnya sudah ada di Indonesia, masyarakat Indonesia bisa dengan mudah menerima budaya pop Jepang yang lain salah satunya adalah produk budaya pop Jepang yang bernama “Idol Grup” yang di wujudkan melalui JKT48 dengan jargon “Idol You Can Meet” yang berarti para fans dapat bertemu dangan idolanya setiap hari karena JKT48 mengadakan pertunjukan rutin di Theater JKT48.

Glokalisasi dalam JKT48

Pendekatan yang dilakukan untuk melihat Glokalisasi yang ada didalam JK48 adalah dengan melalui 3 bagian yaitu JKT48 sebagai Produsen, fans JKT48 atau yang biasa disebut wota sebagai konsumen, dan media. Perbedaan yang ada antara budaya Jepang dan Indonesia membuat AKB48 berusaha menyesuiakan diri dalam bisnis industry music dengan melakukan Glokalisasi.

Sebagai produsen glokalisasi dalam JKT48 bisa dilihat melalui kebijakan AKB48 yang mengharuskan hanya remaja perempuan yang tinggal di Indonesia yang bisa mengikuti audisi JKT48. Walaupun nantinya akan ada proses transfer member dari AKB48 ke JKT48. Penerapan standart “cantik ”JKT48 juga disesuaikan dengan kecantikan Jepang (kawaii) dengan cantik ala Indonesia yang  menjadikannya sebagai sebuah daya tarik utama dari penampilan JKT48. Bisanya dengan ciri kulit putih, rambut lurus dll. Pun lagu yang dinyanyikan oleh JKT48 adalah lagu-lagu AKB48 yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia untuk target audiens yang merupakan masyarakat Indonesia bisa mengerti dan menerima lagu-lagu yang dinyanyikan.

Dari segi kostum ketika tampil disebuah panggung, JKT48 juga melakukan penyesuain berdasarkan norma kesopanan berpakaian di Indonesia. Bahkan ada pula event yang diadakan pihak JKT48 yang mengusung tema batik yang menjadi ciri khas budaya Indonesia. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) sendiri telah menetapkan batik sebagai warisan budaya milik Indonesia sejak tahun 2009. Adapula kostum JKT48 mengusung konsep kebaya yang merupakan jenis busana yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa, khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta, Jawa Tengah. Kebaya tersebut tentu disesuaikan dengan tema yang lebih modern dan lebih colorfull dipadukan dengan batik sehingga JKT48 mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat, bahkan mendapatkan suatu added value tersendiri.

Lebih lanjut penyesuian budaya yang dilakukan adalah dalam sesi pemotretan, jika di AKB48 terdapat sesi pemotretan dengan bikini, dalam JKT48 hal tersebut dihilangkan karena kurang tepat diterapkan dalam budaya Indonesia yang ketimuran dan menjunjung nilai kesopanan. Perbedaan tersebut jelas terlihat malalui cover album dan photopack para member yang dipasarkan masih dalam batas standart norma di Indonesia.

Selain itu, dalam proses pembuatan videoklip JKT48 mengambil tempat yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah videoklip JKT48 yang berjudul “Angin yang Berhembus” berlokasi di Kawah Putih, Ciwidey. Pengambilan gambar yang dilakukan saat pagi buta membuat lokasi ini terlihat dipenuhi kabut yang pekat. Kawah Putih Ciwidey adalah area wisata alam di Ciwidey, Jawa Barat. Pengambilan lokasi tersebut dimaksudkan unutuk mempromosikan pesona alam yang ada di Indonesia, dan tidak selalu melakukan pengambilan gambar di luar negeri

Pendekatan kedua adalah fans sebagai konsumen. Wota yang merupakan subkultur dari budaya Jepang di adopsi oleh para penggemar JKT48 dengan sangat baik. Budaya pengidolaan di Jepang sendiri sudah ada sejak lama di Jepang yaitu pemujaan terhadap kaisar. Menurut riset yang dilakukan Akita, fanatisme fans terhadap idol juga berkaitan dengan ritual agama Shinto, agama asli Jepang, dimana fans melihat idol sebagai sesuatu yang “pure” atau suci dalam agama Shinto. Fans di Jepang juga seringkali melakukan sebuah tarian yang dimaksudkan untuk menyemangati idol yang sedang tampil di panggung, tarian ini dikenal dengan nama wotagei. Fans JKT48 atau wota di Indonesia juga melakukan hal yang sama dengan fans yang ada di Jepang, yaitu melakukan wotagei. Hal tersebut sejalan bahwa glokalisasi merupakan proses timbal balik antara budaya global dan local.

Diterimanya proses glokalisasi oleh fans JKT48 terlihat ketika fans membeli berbagai merchandise. Misalnya membeli baju, lightstick, photopack, DVD dll. Bahkan fans rela mengeluarkan banyak uang nya untuk melakukan vote agar idol yang diingikan masuk dalam senbatsu (pemilihan member yang layak membawakan sebuah single-lagu). Keuntungannya? Jelas banyak, terutama bagi member sendiri. Menjadi Senbatsu berarti menandakan mereka memiliki banyak fans dan bentuk prestasi. Bagi fans, member yang diidolakannya bisa terpilih menjadi kebanggaan tersendiri atas support yang diberikan. Bahkan wota dalam level “dewa”  bisa menghabiskan jutaan uangnya hanya untuk melakukan vote tersebut.

Fans memiliki kebebasan dalam memilih membernya sendiri. Para member memilki karakter kecantikan kelucuan yang berbeda, oleh karena itu fans dapat memilih oshi-nya sesuai “seleranya”. Seorang wota juga bisa mengamati perkembangan oshinya mulai dari awal hingga menuju puncak. Hal ini juga sebagai bentuk distingsi dengan grup/girl band lainnya di Indonesia. JKT48 menawarkan “proses” sedangkan grup/girlband lebih menawarkan “produk yang jadi” atau sempurna. Sehingga ketika salah satu anggota keluar maka bisa dikatakan grup tersebut tidak lagi kohesif atau kompak, sedangkan JKT48 ketika member grad atau mengundurkan diri fans bisa memilih oshi lain, sedangkan pikah internal JKT48 rutin melakukan audisi sebagai bentuk regenarsi.

Ketiga, pendekatan media. JKT48 menjadi mudah untuk diterima masyarakat karena adanya media. Media seperti acara musik, film, iklan, talk show, dan variety show di televisi maupun radio mampu meningkatkan popularitas. Media menjadi sarana dalam penyampain visi misi JKT48 yang membawa kultur budaya local sehingga audiens lebih bisa menerima JKT48 sebagi repersentasi budaya Indonesia,

Kemajuan teknologi komunikasi juga menjadi peluang member untuk berinteraksi dengan para fansnya, salah satunya adalah pemanfaatan media social: Twitter, Instagram, Google+ dll. Para member setiap hari menyapa fansnya di media social, melalui unggahan foto ataupun video. Adanya perkembangan media komunikasi mengutukngkan, apalagi letak geografis Indonesia yang sangat luas, sehingga fans yang bertempat tinggal jauh masih memungkinkan untuk “berinteraksi” dengan idolanya tanpa harus bertemu secara langsung.

Media juga sebagai ruang para fans yang aktif untuk mendiskusikan topik seputar perkembangan member JKT48, mulai dari prestasi, hal-hal yang lucu, aneh, samapi skandal. Ya, skandal member JKT48 yang terbukti memilki pacar atau kekasih, dapat menurunkan seputasi member tersebut, konsekuensinya bisa perpindahan tim sampai dikeluarkan dari JKT48.

Implikasi glokalisasi

Ada beberapa budaya Jepang yang ditolak masuk dalam Indonesia. Misalnya kostum dengan rok pendek, perilaku wota yang kurang bisa diterima atau dianggap hanya menghabiskan uang dan waktu, serta fanatisme berlebihan yang dilakukan para wota menimbulkan tanggapan-tanggap negatif terhadap budaya Jepang baik di dalam JKT48 sendiri atau di sekitar JKT48.

Disatu sisi adanya glokalisasi memberi warna baru dalam industri musik dan industri hiburan di Indonesia. Eksistensi JKT48 dapat meingkatkan kualitas hubungan bilateral, baik antara Indonesia dan Jepang yang diwujudkan dengan seringnya JKT48 mengisi acara-acara budaya baik di Jepang maupun di Indonesia yang dilaksanakan dengan hubungan kerjasama  antara pemerintah.

Fenomena glokalisasi merupakan kabar ynag baik bagi kemandirian budaya masyarakat Timur seperti di Indonesia. Artinya, di era globalisasi sekarang, masyarakat Timur tak hanya dapat bertindak selaku konsumen dan menerima secara pasif berbagai budaya yang berasal dari Barat, melainkan dapat pula menjadi produsen dan aktif mereproduksi beragam budaya bagi masyarakat dunia. Dan tak menutup kemungkinan, apabila masyarakat Timur tak henti-hentinya mmenghasilakan inovasi baru, maka globalisasi tak lagi selalu di asosiasi dengann budaya barat, melainkan bisa juga bentuk “easternisasi” budaya global.

Globalisasi bukanlah suatu hal yang menakutkan dan harus dihindari, karena masalah dari interaksi global adalah akan selalu terjadi, maka dari itu adaptasi dari cara pandang global ke dalam kondisi local diperlukan melalui penyesuaian budaya (glokalisasi). Bentuk pandangan kritis terhadap cepatnya perkembangan globalisasi bukan berarti bahwa hegemoni budaya global dapat menyingkirkan budaya lokal yang ada di dalam masyarakat. Namun sebaikanya, ketika budaya global dan budaya lokal dapat berjalan bersamaan berimplikasi pada munculnya pilihan budaya yang lebih variatif dan tidak monoton.

Namun disisi lain, budaya popular semakin kehilangan makna, sama seperti ungkapan kasih sayang, semakin sering diucapkan maka semakin hambar rasanya dan menjadi biasa. Analogi tersebut barangkali dapat menggambarkan glokalisasi saat ini, semakin sering budaya di komodifikasikan maka makna budaya, yang moralis dan yang humanis akan semakin direduksi dan melegitimasi masyarakat sekarang menjadi masyarakat yang lebih konsumtif.

Oleh Rino Andreas

Referensi :

Mahardika , A., & Sugiono, M. (2015). Globalisasi Budaya dlam Bisnis Hiburan Jepang-Indonesia (Studi Kasus: JKT48).(Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada).

Marlina, N. (2015). Eksistensi Potensi Lokal dalam Fenomena Glokalisasi: Belajar dari Batik Kayu Krebet. GOVERNMENT: Jurnal Ilmu Pemerintahan, 8(2), 105-116.

Setyoko, T., Ranteallo, I. C., & Nugroho, W. B. Mcdonaldisasi dan Dehumanisasi Pegawai Restoran Cepat Saji di Bali.

Risyadi, R. W. (2017). Dampak Keberadaan JKT48 Terhadap Gaya Hidup Konsumtif Fans JKT48 Dikalangan Mahasiswa (Studi Kasus di Komunitas JFUIN) (Bachelor’s thesis, FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

Soeroso, A., & Susuilo, Y. S. (2008). Strategi Konservasi Kebudayaan Lokal Yogyakarta. Jurnal Manajemen Teori dan Terapan| Journal of Theory and Applied Management, 1(2).

Soukotta, F. K., & Hip-Hop, S. Glokalisasi Budaya Populer Pada Dalam Musik Rap Budaya Lokal Yogya Hip-Hop Foundation.

http://jkt48.com

Advertisements

Perjalananku Masuk KBM

Untitled.png
Photo by Rino Andreas

Kali ini saya akan membagikan sedikit cerita perjalanan masuk pascasarjana UGM yaitu program studi Kajian Budaya dan Media (KBM).

Apa sih KBM itu?

“KBM atau Kajian Budaya dan Media merupakan sebuah program studi sekolah pascasarjana UGM yang mengantisipasi perkembangan budaya yang semakin termediasi dan terkomodifikasi dalam konteks ekonomi dan teknologi global. Program studi KBM bertujuan untuk mengembangkan kepekaan dalam memahami dan menjelaskan implikasi-implikasi produk-produk budaya yang termediasi dan terkomodifikasi tersebut”. Itulah penjelasan singkat yang saya temukan di website KBM. Dari kalimatnya saja sudah “ngeri” kan? hehe

Kenapa KBM?

Sebelumnya, saya adalah lulusan S1 ilmu komunikasi. Dan tahun ini diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, pilihannya ada dua antara UNS atau UGM. Pada akhirnya UGM lah yang memenangkan hati saya. Salah satu alasannya adalah karena lingkungan yang progresif. Saya mulai mengetahui dan tertarik dengan prodi ini dari seorang kawan yang juga alumni KBM beberapa tahun yang lalu. KBM memang masih serumpun dengan ilmu komunikasi. Apalagi setelah melihat beberapa mata kuliah yang ditawarkan, semakin meyakinkan saya untuk segera menjadi warga KBM19. Sejak semester 5 saya sudah terbiasa tersesat dalam rimba filsafat atau sering mengikuti diskusi, jadi tidak terlalu kaget dengan berbagai ilmu yang dianggap “aneh” dalam mata kuliah tersebut. Pendaftaranpun dibuka mulai 17 Desember 2018. Sikaaat!!. Syarat-syarat yang dibutuhkan saat mendaftar adalah:

  1. Ijazah
  2. Transkrip nilai
  3. Sertifikat akreditasi program studi pada jenjang S1
  4. Rekomendasi  2 orang dosen, yang diutamakan dosen pembimbing akademik
  5. Surat keterangan sehat, yang bisa didapat di rumah sakit atau puskesmas terdekat
  6. Proyeksi keinginan, yang bentuknya essai singkat mengenai rencana topik/minat penelitian serta alasan dan harapan mengikuti program yang dipilih, rencana topik penelitian, dan rencana setelah selesai kuliah.
  7. Sertifikat Acept atau sertifikat kemampuan bahasa inggris seperti TOEFL IBT, TOEFL ITP, TOEP PLTI, atau IELTS. Acept ini adalah tes bahasa inggris khusus dari UGM. Perbedaan score beberapa tes tersebut, dapat dilihat melalui tabel konversi yang dapat di-download di internat. Setahu saya Acept digunakan untuk keperluan melengkapi berkas wisuda atau studi lanjut di UGM.
  8. Sertifikat PAPs, PAPs adalah tes kemampuan kognitif yang digunakan untuk mengetahui potensi akademik seseorang. Seperti tes psikologi, yang isinya soal  pola-pola, logika, serta kemampuan berhitung.
  9. Proposal, yang disesuaikan dengan tema prodi pilihan (jika ada) karena setiap prodi memiliki ketentuan tambahan masing-masing.

Saya sendiri baru mengikuti tes Acept dan PAPs sekali dan mendapatkan score yang lumayan, padahal tidak ada persiapan yang matang. Pengalaman mengikuti kedua tes tersebut akan saya bagikan di lain kesempatan. Kalau mau tahu scorenya silakan PC saja.

Persayaratan dokumen-dokumen yang dibutuhkan dapat dilihat lebih jelas di http://um.ugm.ac.id Dokumen-dokumen diatas di-upload (pdf) secara online dalam akun yang kita buat, setelah semua lengkap barulah melakukan penguncian data dan melakukan pembayaran pendaftaran, serta menunggu pengumuman.

Nah, ketika melengkapi semua syarat-syarat pendaftaran dan menunggu pengumuman, saya memiliki beberapa kesibukan, karena memang lebih banyak waktu luang. Pertama kesibukan dalam organisasi “X”. Sedikit mengenai organisasi “X” yang saya ikuti ini, sering melakukan diskusi yaitu minimal 7 kali dalam sebulan, belum termasuk rapat internal dan agenda lain. Apalagi kultur “canggih” yang ada di dalamnya yaitu membaca, menulis dan propaganda. Jadi, bisa sekalian menjaga atmosfer belajar, menambah teori/praktik dan relasi lintas pulau bahkan lintas negara. Kebetulan saya berada di divisi propaganda sebagai penaggungjawab desain poster, kadang menjadi pemantik diskusi juga.

Kesibukan kedua adalah fotografi, saya beruntung memiliki kamera beserta perlengakapan lainnya. Fotografi menjadi hobi yang menyenangkan sekaligus menguntungkan. Dibeberapa kesempatan saya sering memotret model, landscape, atau event. Ya lumayan, menambah koleksi foto, sekedar untuk ngopi atau beli buku. Fotografi ini bukan semata-mata untuk mengejar profit ala bourgeois, namun karena saya memang menyukainya, “I do what I want”. Gitu.

Ketiga, membuat jurnal penelitian. Lagi-lagi, mungkin karena faktor “luck” saya diberikan kesempatan untuk kesekian kalinya bergabung dengan mantan dosen saya membuat jurnal penelitian. Jurnal itu akan menganalisis kasus yang sedang viral saat ini yaitu kasus Vanessa Angel. “serius?” itu lah sepenggal pesan Whatsapp saya kepada pak dosen karena saya curiga sedang dikerjai, tapi ternyata benar ingin dijadikan penelitian. Penelitian itu nantinya akan melihat bagaimana wacana/ “discourse” berita kasus Vanessa berdasarkan model (Analisis Wacana Kritis ) AWK Sara Mills. Tanpa ba.. bi.. bu.. saya langsung meng-iya-kan tawaran itu. Secara, ilmu baru kan, gratis lagi.

Ternyata, adik tingkat angkatan 2017 juga ikut bergabung dalam projek singkat itu. Kami bertiga (saya, pak dosen, adik tingkat) mengerjakan full paper dalam waktu sesingkat-singkatnya. Kami mengerjakan di kantor prodi. Saya merasa aneh ketika harus kembali ke ruang dosen sebagai alumni. Teringat pahit manisnya perjuangan selama S1. Tapi bagaimana ya? kan harus move one, ingin segera hijrah ke UGM. Sekarang tinggal melihat hasil pengumuman.

Singkat cerita, pengumuman pendaftaran di website, tertanggal 22 Januari 2019 pukul 20.00 WIB. Posisi saya saat itu sedang di Solo. Dan hasilnya adalah.. pengumuman diundur dari jam 8 menjadi jam 9 malam. Sembari menunggu saya memilih untuk bermain Mobile Legends dan memutar lagu-lagu JKT48. iya JKT48.

Tak terasa sudah jam 21.03 WIB tiba waktunya untuk membuka website pendaftaran. Peserta, diwajibkan log in terlebih dahulu dengan mengisi email, PIN rahasia, dan captcha agar dikira manusia, bukan alien atau robot. Dan.. ternyata pinnya salah, saya ulang lagi untuk log in dan hasilnya adalah saya dinyatakan DITERIMA di Magister Kajian Budaya dan Media UGM. Yeah!!, salah satu momen terbaik dalam hidup.

Wow Sponge Bob GIF - Wow SpongeBob SpongeBobSquarepants GIFs

Padahal, saya sempat pesimis dengan score Acept dan PAPs yang standar itu. Tapi mungkin otoritas UGM memiliki penilaian berdasarkan indikator lain. Proses seleksi UGM pasti memiliki standar tinggi, apalagi dengan saingan yang banyak peminatnya. Hmm.. barangkali karena efek do’a dari orang tua ya. Saya sendiri tipe orang yang jarang berdo’a dan memohon, namun lebih memilih tindakan konkret saat menginginkan perubahan. Ya bisajadi karena pengaruh ajaran Ubermensch ala Nietzsche duh duh.. sesaaaaat..

Selanjutnya apa? selanjutnya adalah persiapan registrasi ulang dan mengangkut semua koleksi buku “merah” yang ada di rumah, ke Yogyakarta tentunya.

NB : Terima kasih kepada Ibu Rina Sari Kusuma selaku dosen pembimbing saya, dan pak Yudha Wirawanda selaku dosen penguji sekaligus kawan ngopi atas surat rekomedasinya. Tak lupa kamerad-kamerad organisasi seperjuangan, yang selalu support di balik layar, sahabat saya, teman-teman kost, teman-teman ilkom yang sepemikiran dengan saya. Danke!