"Genjer-Genjer" sebagai Instrumen Kritik

keramahan-pasar-tradisional-265197-1

Lagu “Genjer-Genjer” sampai saat ini memang mendapatkan stigma bagi kebanyakan masyarakat. Pasca peristiwa G 30/S dan mulainya rezim Orde Baru Soeharto, para kader dan simpatisan PKI yang dituduh terlibat “kudeta” dan pembunuhan para jendral diburu dan di hukum tanpa adanya pembelaan. Orde Baru menjadi masa dimana, faham komunisme yang menjadi landasan PKI dilarang dan ditakuti. Hal itu karena propaganda yang dilakukan rezim tersebut. Salah satunya dengan film “Penghianatan G 30/S PKI”.

Dalam film propaganda itu, ada adegan yang paling membuat bulu kuduk merinding ketika anggota Gerwani mengelilingi para jenderal yang ditawan, lalu menyilet wajah mereka, diselingi nyanyian “Genjer-Genjer” . Nah, propaganda keji dalam film tersebut otomatis membuat image PKI dan underbownya seperti Gerwani, Lekra sangat dibenci masyarakat, Padahal bukti dan fakta sejarah tidak menujukan hal tersebut.

Propaganda terhadap lagu “Genjer-Genjer” semakin langgeng karena film “pesanan” tersebut diputar setiap tahunnya. Lagu itu kemudian melekat dengan citra PKI, apalagi saat itu PKI menggunakannya sebagai kampanye untuk mengumpulkan suara kaum proletar dan petani yang tertindas. Namun lagu tersebut kini dilarang diputar. Bahkan ada yang menyebut lagu “Genjer-Genjer” sebagai, ” bid’ah, larangan terkutuk seperti hukum Tuhan, dalam kitab-kitab suci agama samawi.

Kritik Sosial

Muhammad Arief, salah satu seniman terkenal Lekra menciptakan lagu Genjer-Genjer pada tahun 1942. Lagu ini sebenarnya menggambarkan kondisi warga Banyuwangi saat penjajahan Jepang. Sebelumnya, genjer genjer atau (Limnocharis flava) adalah tumbuhan yang tumbuh dirawarawa, biasanya untuk makanan ternak. Ketika Indonesia dalam penjajahan Jepang, banyak warga yang mengalami kelaparan dan terpaksa memakan tumbuhan yang awalnya dianggap hama sebagai sayuran alternatif karena tidak mampu membeli daging.

Sampai saat ini lagu Genjer-Genjer seperti di hapus dalam “playlist” tak ada yang berani memutar, di televisi maupun radio. Ada kabar, radio yang memutar lagu tersebut di datangi sejumlah orang/ormas dan menuntut untuk permintaan maaf. Sebegitu menakutkan kah lagu tersebut?

Kenapa stigma lagu ini begitu kuat?

Pertama, propaganda puluhan tahun Orde Baru masih kuat menancap di sebagian orang. Kedua, jalan menuju sejarah Indonesia yang terang masih amat panjang. Ketiga, rendahnya literasi sehingga fakta sejarah yang sebenarnya tak banyak yang mengetahui. Lagu “Genjer-Genjer” menjadi salah satu indikatornya.

Saya pribadi menyukai lagu ini, dan sering diputar ketika malam atau sedang membaca buku. Rasanya seperti kembali ke masa penjajahan, sehingga memotivasi saya untuk belajar dan berusaha mencoba hidup “prihatin”. Setahu saya ada 2 versi yang menyanyikan lagu ini yaitu Bing Slamet dan Lilis Suryani.

Lirik lagu Genjer-Genjer :

Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Emake thulik teka-teka mbubuti genjer
Emake thulik teka-teka mbubuti genjer
Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tulih-tulih
Genjer-genjer saiki wis digawa mulih

Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar
Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar
Dijejer-jejer diuntingi padha didhasar
Dijejer-jejer diuntingi padha didhasar
Emake jebeng padha tuku nggawa welasah

Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s