Filsafat dan Stigma Ateisme

filsTerminologi “ateisme” selalu terdengar ketika seseorang bersinggungan dengan filsafat. Seakan membaca buku bernafas filsafat merupakan indikasi menuju sesat, atau ciri- ciri bahwa pembacanya murtad dsb. Tapi sebenarnya tidak demikian. Jadi kenapa mahasiswa selalu mengasosiasikan filsafat dengan ateisme?

Pertama, analisa yang lemah mahasiswa dalam melihat suatu fenomena/subjek lain. Hal ini berimplikasi pada kesimpulan yang prematur. Menilai subjek lain berdasarkan hal yang terlihat: aspek materil saja. Maka tak heran jika mahasiswa jaman now hanya memiliki kemampuan teknis saja tanpa dibekali kemampuan analisa yang memadai. Mereka belum memiliki perangkat logika yang “tahan banting” untuk melakukan eksplorasi intelektual secara radikal.

Kedua, rendahnya minat baca. Keterbukaan dan kebebasan informasi harusnya menjadi kesempatan untuk menambah wawasan pengetahuan seluas luasnya. Dengan pengetahuan maka seseorang akan lebih terbuka pikirannya dan lebih luas cara pandangnya dalam melihat dunia. Seperti katak yang ada dalam sumur saat melihat langit, terbatas. Namun disaat katak itu naik maka akan terlihat luasnya pemandangan seperti pengetahuan yang terus dipelajari. Tak ada ilmu yang beragama atau anti-agama, semua sama.

Ketiga, mahasiswa sudah terpengaruhi oleh dogma-dogma agama. Sehingga menganggap bahwa simbol-simbol agama atau wacana agama sudah dianggap sebagai kebenaran mutlak pdahal bisa saja mengandung selubung ideologi dan kepentingan tertentu. Bahkan tak perlu bersikap skeptis akan hal itu, jadi pertanyaan-pertanyaan kritis rasional yang bisa ditemui dalam filsafat dianggap menjadi ancaman bagi keimanan atau mendapatkan stigma ateisme. Menurutmu Tuhan menciptakan manusia sepaket dengan rasio untuk apa?? “Dia itu atheis karena belajar filsafat”

Sebuah pledoi

Pernyataan lucu tersebut barangkali pernah kita dengar atau bahkan dituduhkan kepada kita. Boleh-boleh saja orang lain menilai kita, tapi membahas atheis atau tidak seseorang, sepertinya merupakan hal yang kontraproduktif. Kenapa? Karena ateisme tidak merugikan orang lain. Banyak hal yang lebih penting untuk dibahas ketimbang menuduh atheis tidaknya seseorang. Apakah jarang terlihat menggunakaan simbol-simbol agama seperti peci dll disebut ateis? bisa jadi malah sebaliknya, yang menganggap agama itu “suci” dan sakral, maka orang itu menghormati agama, tidak menggunakannya untuk kepentingan pribadi. Misalnya pencitraan di media sosial.

Toh seseorang yang memutuskan untuk menjadi atheis atau tidak, pasti membutuhkan proses panjang dan tentu banyak pertimbangan. Misalnya: Kekecewaan atas dogma agama yang sering disalahgunakan. atau agama belum mampu menjawab kompleksitas masalah yang dialami dan lain sebagainya. Maka, bukan ranah kita mencampuri “keyakinan” seseorang yang tidak merugikan orang lain.

Rino Andreas

Advertisements

2 thoughts on “Filsafat dan Stigma Ateisme”

    1. Yap, Kita belajar kan untuk tahu perspektif baru. Dari pengalaman pribadi, saya sendiri dianggap ateis karena belajar filsafat, padahal tidak sesederhana itu kan menganggap orang beragama/tidak beragama

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s