Pertama, analisa yang lemah mahasiswa dalam melihat suatu fenomena/subjek lain. Hal ini berimplikasi pada kesimpulan yang prematur. Menilai subjek lain berdasarkan hal yang terlihat: aspek materil saja. Maka tak heran jika mahasiswa jaman now hanya memiliki kemampuan teknis saja tanpa dibekali kemampuan analisa yang memadai. Mereka belum memiliki perangkat logika yang “tahan banting” untuk melakukan eksplorasi intelektual secara radikal.
Kedua, rendahnya minat baca. Keterbukaan dan kebebasan informasi harusnya menjadi kesempatan untuk menambah wawasan pengetahuan seluas luasnya. Dengan pengetahuan maka seseorang akan lebih terbuka pikirannya dan lebih luas cara pandangnya dalam melihat dunia. Seperti katak yang ada dalam sumur saat melihat langit, terbatas. Namun disaat katak itu naik maka akan terlihat luasnya pemandangan seperti pengetahuan yang terus dipelajari. Tak ada ilmu yang beragama atau anti-agama, semua sama.
Ketiga, mahasiswa sudah terpengaruhi oleh dogma-dogma agama. Sehingga menganggap bahwa simbol-simbol agama atau wacana agama sudah dianggap sebagai kebenaran mutlak pdahal bisa saja mengandung selubung ideologi dan kepentingan tertentu. Bahkan tak perlu bersikap skeptis akan hal itu, jadi pertanyaan-pertanyaan kritis rasional yang bisa ditemui dalam filsafat dianggap menjadi ancaman bagi keimanan atau mendapatkan stigma ateisme. Menurutmu Tuhan menciptakan manusia sepaket dengan rasio untuk apa?? “Dia itu atheis karena belajar filsafat”
Sebuah pledoi
Pernyataan lucu tersebut barangkali pernah kita dengar atau bahkan dituduhkan kepada kita. Boleh-boleh saja orang lain menilai kita, tapi membahas atheis atau tidak seseorang, sepertinya merupakan hal yang kontraproduktif. Kenapa? Karena ateisme tidak merugikan orang lain. Banyak hal yang lebih penting untuk dibahas ketimbang menuduh atheis tidaknya seseorang. Apakah jarang terlihat menggunakaan simbol-simbol agama seperti peci dll disebut ateis? bisa jadi malah sebaliknya, yang menganggap agama itu “suci” dan sakral, maka orang itu menghormati agama, tidak menggunakannya untuk kepentingan pribadi. Misalnya pencitraan di media sosial.
Toh seseorang yang memutuskan untuk menjadi atheis atau tidak, pasti membutuhkan proses panjang dan tentu banyak pertimbangan. Misalnya: Kekecewaan atas dogma agama yang sering disalahgunakan. atau agama belum mampu menjawab kompleksitas masalah yang dialami dan lain sebagainya. Maka, bukan ranah kita mencampuri “keyakinan” seseorang yang tidak merugikan orang lain.
Rino Andreas