NEW LEFT

Meme: Marxisme Lunak

Advertisements

Bukan rahasia umum lagi, bahwa narasi anti-marxisme di Indonesia dimulai pasca peritiwa ’65 oleh Orde Baru. Ya, stigma yang dibangun tersebut berimplikasi pada berbagai aspek, ekonomi, budaya, maupun sosio kultur. Dan sampai saat ini, banyak masyarakat yang masih mengkambing hitamkan ajaran Karl Marx yang sebenarnya anti terhadap kapitalisme dan anti terhadap imperialisme.

Kapitalisme sendiri merupakan sistem ekonomi yang hadir untuk menggantikan system sebelumnya yaitu feodal yang diatur oleh kekuasaan kerajaan. Dalam feodalisme, masyarakat diharuskan membayar upeti atau pajak kepada raja. Aturan tersebut memberatkan dan setelah revolusi sistem kapitalisme semakin menjamur. Sistem kapitalisme yang dipercaya dapat menghadirkan keadilan justru menimbulkan masalah baru yaitu tidak memanusiakan manusia dalam hal ini karena kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi membuat para pekerja (proletar) harus tunduk dan dihisap nilai lebih-nya oleh para borjuis

Diera teknologi informasi saat ini, meme menjadi hal yang popular di dalam media social, salah satunya dapat ditemui melalui Instagram. Banyak sekali meme dengan konteks marxisme yang dapat dengan mudah dicari, salah satunya dengan hashtag #marxism. Meme merupakan gambar yang diedit sedemikian rupa dengan menambah beberapa text agar dapat dibaca dengan memasukan konteks tertentu dan dengan mudah bisa dibagikan. Meme sendiri mengandung 3 unsur, antara lain isi (content), form, dan sudut pandang.

Hahstag tersebut menampilan berbagai meme yang dikaitkan dengan Marx, Lenin, Stalin, Mao dan lainnya. Setelah saya amati, ternyata banyak pengguna Instagram yang turut memberikan like dan komentar dalam meme “paluarit” tersebut.

Jumlah akun yang memposting juga tidak sedikit. Bahkan antar akun saling mem-follow, sebuah refleksi kohesifitas ajaran marx untuk bersatu melakukan revolusi dan terus melawan kapitalisme. Meme yang diposting kebanyakan dalam bentuk satire atau sindiran tentang buruknya kapitalisme.

Hal ini menunjukan bahwa ada alternative proses pembelajaran dan pemahaman dalam ajaran marxisme melalui meme. Sangat cocok untuk masyarakat era kontemporer saat ini yang menunjukan rendahnya tingkat literasi buku, jangan kan Das Kapital Jilid 1, saya curiga banyak yang belum membaca tuntas Manifesto Komunis yang bisa dibilang lebih sedikit jumlah halamannya.

Meme marxisme dapat dijadikan sebagai media hiburan yang progresif sekaligus dapat menjadi cara menghapus stigma tentang marxisme sejak era Soeharto. Wajar saja kalau seseorang tidak menerima prinsip-priinsip Marxisme di Indoensia apalagi dengan propaganda 32 tahun. Difusi intelektualitas juga dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen ini. Marxisme adalah sebuah doktrin ilmiah dengan pendekatan materialism historis dan materislime dialektika

Meme mendorong partisipasi aktif bagi para pengguna dengan terbentuknya runang publik. Dalam perspektif komunikasi, Hebermas, salah satu tokoh Mahzab Frankfurt yang menyatakan bahwa ruang public menjadi arena dimana semua orang setara dalam menyampaikan gagarasan terkait isu politik, ekonomi maupun sosial. Diskusi dalam ruang public, dapat menawarkan berbagai sudut pandang dan yang terpenting bebas intervensi. Saya pernah melihat sebuah meme yang berisi kritikan terhadap rasionalisme ekonomi kapitalis, satu sisi ada yang pro dan sisi lain kontra terhadap meme tersebut.

Kultur meme ini bisa menginformasikan dan memperteguh ideology kiri. Barangakali kalau Marx dan Engels masih hidup, mereka akan mempertimbangkan penggunaan meme dalam analisis ekonomi politiknya. Saya membayangkan Marx dan Engels sedang ngopi bersama sore hari dan merancang konsep meme yang akan diupload ke dalam Instagram. meme yang dibuat pasti adalah seruan para proletar unutk mempersiapkan revolusi dan merayakan runtuhkan kapitalisme.

Dan saya yakin meme yang dibuat Marx Engels tidak mencantumkan watermark alias bisa dishare siapa saja, sesuai dengan prinsip-prinsip dasar marxisme. Saling berbagi!

Rino Andreas

Advertisements

Advertisements