
Pandangan Guy Debord tentang masyarakat tontonan bukan hanya sekedar pesan atau makna yang disampaikan oleh media komunikasi mainstream seperti televisi dan sebagainya. namun, segala macam bentuk komoditas dalam pengertian yang lebih luas. Komoditas ini akhirnya membentuk pola pikir masyarakat menjadi tidak sekedar mengkonsumsi manfaat dari sebuah produk namun juga mengkonsumsi dengan adanaya nilai “to be looking at” dalam kesehariannya. Komoditas yang bertubi-tubi dibawa oleh kepentingan ekonomi yang disodorkan kepada kehidupan sosial sehingga merubah definisi dari seluruh kesadaran manusia, yang bermula mengenal concept of being, menjadi having, dan selanjutnya adalah appearing. Jika sudah masuk pada wilayah “tampak” (appearance), maka hal ini beriringan dengan logika tontonan (spectacle). Nilai dari having kemudian dengan segera mengharuskan munculnya fungsi prestise dan “yang paling mewah” dalam satu waktu. Pada akhirnya, orang mengkonsumsi sebuah barang, demi kepentingan tontonan, citra, dan representasi di khalayak publik. Hal ini sejalan pula oleh pandangan Veblen tentang “we can’t stop progress”. Pernyataan itu mengarahkan bahwa kita tidak dapat menghentikan suatu perkembangan dan kemajuan. Dalam bukunya The Society of the Spectacle tahun 1967, tujuan penting dari konsumsi adalah untuk pamer pada orang lain.
Dalam hal ini, Debord menambahkan bahwa pada akhirnya definisi tentang dunia nyata berubah menjadi sekumpulan citra-citra sederhana, citra sederhana menjadi sebuah kenyataan dan motivasi efektif dari perilaku yang hipnotik. Dunia dibentuk dari citra sederhana, di sini lebih berarti bagaimana masyarakat mengidentifikasikan diri sebagai seseorang yang inheren denganproduk real yang diidealkan oleh komoditas. Akan tetapi, proses proyeksi diri kepada sesuatu yang ditawarkan oleh komoditas tidak akan pernah terjadi.
Akhirnya, dunia dimaknai sebagai entitas yang hanya terdiri dari citra-citra sederhana, bentuk dari manifestasi komoditas yang tak pernah sempurna. Dunia tontonan adalah dunia komoditas, dimana seseorang memiliki sesuatu untuk di pertontonkan sehingga pada akhirnya pasar yang mendominasi secara spektakuler. Perkembangan kekuatan produksi adalah sejarah sadar nyata yang telah membangun dan dimodifikasi kondisi keberadaan kelompok manusia, perkembangan ini telah menjadi dasar dari semua usaha manusia. Ekonomi mengubah dunia, tetapi berubah menjadi sebuah dunia ekonomi. Tontonan adalah perang opium tetap dilancarkan untuk membuat tidak mungkin untuk membedakan barang dari komoditas , atau kepuasan sejati dari hidup yang meningkatkan sesuai dengan logikanya sendiri. Kelangsungan hidup yang harusditingkatkan, pada kenyataannya menimbulkan kekurangan yang abadi. Alasannya adalah bahwa kelangsungan hidup itu sendiri milik dunia perampasan.
Akibatnya, menurut Debord, muncullah fenomena alienasi dalam pola mengkonsumsi. Pada akhirnya, Debord menyimpulkan bahwa tontonan adalah momen dimana komoditas memenuhi ruang-ruang kehidupan masyarakat. Hal ini menurutnya tidak terlepas dari peran kediktatoran produksi ekonomi modern yang secara ekstensif dan intensif turut membayangi momen tersebut.
Spectacle di media sosial
Lebih lanjut Guy Debord melihat bagaimana kecenderungan masyarakat saat ini lebih memilih media gambar atau visual yang memiliki penegasan penampilan dan penegasan kehidupan sosial untuk menginterpretasikan sesuatu. Ia meyakini bahwa spectacle merupakan main production of present day society atau produksi utama yang dominan pada masyarakat saat ini. Jadi ‘spectacle’ kerap hadir pada masyarakat yang ingin menjadikan dirinya sebagai tontonan atau konsumsi dari masyarakat lainnya, atau dengan kata lain Individual reality has become social.
Masyarakat tontonan merupakan suatu bentuk tampilan yang berupaya melakukan identifikasi melalui relasi sosial dari seluruh aspek kehidupan sosial manusia. Dalam masyarakat tontonankehidupan bertranformasi menjadi ‘representasi’. Setelah itu, salinan dari representasi menjadi sebuah realitas. Spectacle menjadi kecenderungan untuk melihat dunia realitas melalui medium tertentu (mediated reality). Medium gambar atau visual inilah yang cenderung digunakan pada masyarakat saat ini untuk merepresentasikan sesuatu. Meski demikian, Guy Debord menekankan bahwa, spectacle ternyata bukanlah kumpulan citra-citra (imaji). Akan tetapi, merupakan suatu ‘relasi sosial’ antara orangorang yang dimediasikan melalui citra itu sendiri. Pemahaman atas spectacle atau tontonan tidak bisa hanya dipahami semata-mata sebagai upaya penipuan secara material atau visualisasi seperti yang acapkali berlaku pada industri media. Imaji-imaji visual inilah yang terpisah dari setiap aspek kehidupan digabung kedalam sebuah arus utama, dimana didalamnya kesatuan dari kehidupan itu tak dapat lagi ditemukan.
Pandangan-pandangan dari kenyataan yang terfragmentasikan menyusun kembali diri mereka ke dalam kesatuan baru sebagai sebuah ‘dunia palsu’ yang terpisah, dan hanya dapat ‘disaksikan’. Spesialisasi dari imaji dunia, berkembang menjadi sebuah dunia dari imaji kebebasan di mana bahkan para ‘penipu pun ditipu’. Dengan kata lain, dunia tontonan adalah pandangan dunia yang telah berhasil membangun ruang, saat imaji (image) mendapat tempat istimewa yang telah dimaterialisasikan secara aktual, atau dalam bahasa sarkatis : ‘Memalsukan kenyataan merupakan produk yang riil dari kenyataan itu sendiri’.
Dalam fenomena foto diri di media sosial, para penampil foto diri menjadi bagian dalam masyarakat tontonan. Mereka tidak hanya menjadi penonton dalam sebuah ruang pertunjukan visual yang massif, tetapi dalam saat yang bersamaan mereka juga mempertontonkan dirinya kepada orang lain. Dalam kata lain, menjadi subyek sekaligus objek tontonan. Para pelaku foto diri ini seakan terbuai pada kesadaran palsu, dimana mereka menjadikan dirinya sebagai ‘pusat tontonan’ bagi para penontonnya yang memiliki loyalitas (dalam hal ini followers) untuk setia mengikuti setiap aksi yang ditampilkan oleh mereka di panggung visual media sosial.
Disinilah peran ‘citra’ dimainkan sedemikian rupa. Konsep ‘tontonan’ yang menyatukan masyarakat, menjelaskan bahwa didalam masyarakat tontonan terdapat keragaman penampilan yang berbeda-beda. Tetapi disisi lain, terdapat pula kritik didalamnya bahwa semua kehidupan manusia serta kehidupan sosial adalah penampilan belaka. Namun dibalik kritik tersebut, suatu ‘penampilan’ dalam masyarakat tontonan merupakan hal yang penting, karena merupakan negasi dari kehidupan yang menciptakan bentuk visual untuk dirinya sendiri, yang dapat membedakan citra performer satu dan yang lainnya. Karena di dalam masyarakat spectacle, terdapat realitas yang memberikan pesan khusus sehingga citra sempurna merupakan prestise dari sang performer sebagai modal sosialnya untuk memproduksi ‘dunianya’ di dalam realitas virtual.