Perjalananku Masuk KBM

Untitled.png
Photo by Rino Andreas

Kali ini saya akan membagikan sedikit cerita perjalanan masuk pascasarjana UGM yaitu program studi Kajian Budaya dan Media (KBM).

Apa sih KBM itu?

“KBM atau Kajian Budaya dan Media merupakan sebuah program studi sekolah pascasarjana UGM yang mengantisipasi perkembangan budaya yang semakin termediasi dan terkomodifikasi dalam konteks ekonomi dan teknologi global. Program studi KBM bertujuan untuk mengembangkan kepekaan dalam memahami dan menjelaskan implikasi-implikasi produk-produk budaya yang termediasi dan terkomodifikasi tersebut”. Itulah penjelasan singkat yang saya temukan di website KBM. Dari kalimatnya saja sudah “ngeri” kan? hehe

Kenapa KBM?

Sebelumnya, saya adalah lulusan S1 ilmu komunikasi. Dan tahun ini diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, pilihannya ada dua antara UNS atau UGM. Pada akhirnya UGM lah yang memenangkan hati saya. Salah satu alasannya adalah karena lingkungan yang progresif. Saya mulai mengetahui dan tertarik dengan prodi ini dari seorang kawan yang juga alumni KBM beberapa tahun yang lalu. KBM memang masih serumpun dengan ilmu komunikasi. Apalagi setelah melihat beberapa mata kuliah yang ditawarkan, semakin meyakinkan saya untuk segera menjadi warga KBM19. Sejak semester 5 saya sudah terbiasa tersesat dalam rimba filsafat atau sering mengikuti diskusi, jadi tidak terlalu kaget dengan berbagai ilmu yang dianggap “aneh” dalam mata kuliah tersebut. Pendaftaranpun dibuka mulai 17 Desember 2018. Sikaaat!!. Syarat-syarat yang dibutuhkan saat mendaftar adalah:

  1. Ijazah
  2. Transkrip nilai
  3. Sertifikat akreditasi program studi pada jenjang S1
  4. Rekomendasi  2 orang dosen, yang diutamakan dosen pembimbing akademik
  5. Surat keterangan sehat, yang bisa didapat di rumah sakit atau puskesmas terdekat
  6. Proyeksi keinginan, yang bentuknya essai singkat mengenai rencana topik/minat penelitian serta alasan dan harapan mengikuti program yang dipilih, rencana topik penelitian, dan rencana setelah selesai kuliah.
  7. Sertifikat Acept atau sertifikat kemampuan bahasa inggris seperti TOEFL IBT, TOEFL ITP, TOEP PLTI, atau IELTS. Acept ini adalah tes bahasa inggris khusus dari UGM. Perbedaan score beberapa tes tersebut, dapat dilihat melalui tabel konversi yang dapat di-download di internat. Setahu saya Acept digunakan untuk keperluan melengkapi berkas wisuda atau studi lanjut di UGM.
  8. Sertifikat PAPs, PAPs adalah tes kemampuan kognitif yang digunakan untuk mengetahui potensi akademik seseorang. Seperti tes psikologi, yang isinya soal  pola-pola, logika, serta kemampuan berhitung.
  9. Proposal, yang disesuaikan dengan tema prodi pilihan (jika ada) karena setiap prodi memiliki ketentuan tambahan masing-masing.

Saya sendiri baru mengikuti tes Acept dan PAPs sekali dan mendapatkan score yang lumayan, padahal tidak ada persiapan yang matang. Pengalaman mengikuti kedua tes tersebut akan saya bagikan di lain kesempatan. Kalau mau tahu scorenya silakan PC saja.

Persayaratan dokumen-dokumen yang dibutuhkan dapat dilihat lebih jelas di http://um.ugm.ac.id Dokumen-dokumen diatas di-upload (pdf) secara online dalam akun yang kita buat, setelah semua lengkap barulah melakukan penguncian data dan melakukan pembayaran pendaftaran, serta menunggu pengumuman.

Nah, ketika melengkapi semua syarat-syarat pendaftaran dan menunggu pengumuman, saya memiliki beberapa kesibukan, karena memang lebih banyak waktu luang. Pertama kesibukan dalam organisasi “X”. Sedikit mengenai organisasi “X” yang saya ikuti ini, sering melakukan diskusi yaitu minimal 7 kali dalam sebulan, belum termasuk rapat internal dan agenda lain. Apalagi kultur “canggih” yang ada di dalamnya yaitu membaca, menulis dan propaganda. Jadi, bisa sekalian menjaga atmosfer belajar, menambah teori/praktik dan relasi lintas pulau bahkan lintas negara. Kebetulan saya berada di divisi propaganda sebagai penaggungjawab desain poster, kadang menjadi pemantik diskusi juga.

Kesibukan kedua adalah fotografi, saya beruntung memiliki kamera beserta perlengakapan lainnya. Fotografi menjadi hobi yang menyenangkan sekaligus menguntungkan. Dibeberapa kesempatan saya sering memotret model, landscape, atau event. Ya lumayan, menambah koleksi foto, sekedar untuk ngopi atau beli buku. Fotografi ini bukan semata-mata untuk mengejar profit ala bourgeois, namun karena saya memang menyukainya, “I do what I want”. Gitu.

Ketiga, membuat jurnal penelitian. Lagi-lagi, mungkin karena faktor “luck” saya diberikan kesempatan untuk kesekian kalinya bergabung dengan mantan dosen saya membuat jurnal penelitian. Jurnal itu akan menganalisis kasus yang sedang viral saat ini yaitu kasus Vanessa Angel. “serius?” itu lah sepenggal pesan Whatsapp saya kepada pak dosen karena saya curiga sedang dikerjai, tapi ternyata benar ingin dijadikan penelitian. Penelitian itu nantinya akan melihat bagaimana wacana/ “discourse” berita kasus Vanessa berdasarkan model (Analisis Wacana Kritis ) AWK Sara Mills. Tanpa ba.. bi.. bu.. saya langsung meng-iya-kan tawaran itu. Secara, ilmu baru kan, gratis lagi.

Ternyata, adik tingkat angkatan 2017 juga ikut bergabung dalam projek singkat itu. Kami bertiga (saya, pak dosen, adik tingkat) mengerjakan full paper dalam waktu sesingkat-singkatnya. Kami mengerjakan di kantor prodi. Saya merasa aneh ketika harus kembali ke ruang dosen sebagai alumni. Teringat pahit manisnya perjuangan selama S1. Tapi bagaimana ya? kan harus move one, ingin segera hijrah ke UGM. Sekarang tinggal melihat hasil pengumuman.

Singkat cerita, pengumuman pendaftaran di website, tertanggal 22 Januari 2019 pukul 20.00 WIB. Posisi saya saat itu sedang di Solo. Dan hasilnya adalah.. pengumuman diundur dari jam 8 menjadi jam 9 malam. Sembari menunggu saya memilih untuk bermain Mobile Legends dan memutar lagu-lagu JKT48. iya JKT48.

Tak terasa sudah jam 21.03 WIB tiba waktunya untuk membuka website pendaftaran. Peserta, diwajibkan log in terlebih dahulu dengan mengisi email, PIN rahasia, dan captcha agar dikira manusia, bukan alien atau robot. Dan.. ternyata pinnya salah, saya ulang lagi untuk log in dan hasilnya adalah saya dinyatakan DITERIMA di Magister Kajian Budaya dan Media UGM. Yeah!!, salah satu momen terbaik dalam hidup.

Wow Sponge Bob GIF - Wow SpongeBob SpongeBobSquarepants GIFs

Padahal, saya sempat pesimis dengan score Acept dan PAPs yang standar itu. Tapi mungkin otoritas UGM memiliki penilaian berdasarkan indikator lain. Proses seleksi UGM pasti memiliki standar tinggi, apalagi dengan saingan yang banyak peminatnya. Hmm.. barangkali karena efek do’a dari orang tua ya. Saya sendiri tipe orang yang jarang berdo’a dan memohon, namun lebih memilih tindakan konkret saat menginginkan perubahan. Ya bisajadi karena pengaruh ajaran Ubermensch ala Nietzsche duh duh.. sesaaaaat..

Selanjutnya apa? selanjutnya adalah persiapan registrasi ulang dan mengangkut semua koleksi buku “merah” yang ada di rumah, ke Yogyakarta tentunya.

NB : Terima kasih kepada Ibu Rina Sari Kusuma selaku dosen pembimbing saya, dan pak Yudha Wirawanda selaku dosen penguji sekaligus kawan ngopi atas surat rekomedasinya. Tak lupa kamerad-kamerad organisasi seperjuangan, yang selalu support di balik layar, sahabat saya, teman-teman kost, teman-teman ilkom yang sepemikiran dengan saya. Danke!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s