
Budaya lokal merupakan identitas masyarakat yang sangat dijunjung tinggi sesuai dengan nilai-nilai dan konteks yang berlaku ditempat itu. Glokalisasi muncul ketika budaya lokal yang dipegang oleh kelompok masyarakat berinteraksi dengan budaya global yang dibawa oleh derasnya arus globalisasi. Proses Glokalisasi sebenarnya bisa terjadi ketika budaya local menjadi global atau sebaliknya, budaya global yang disesuikan dengan budaya local.
Glokalisasi diperkenalkan oleh Roland Robertson pada tahun 1977 dalam konfrensi “Globalizationand Indigenous Culture”. Secara umum glokalisasi adalah penyesuaian produk global dengan memasukkan karekter-karakter-karakter lokal didalamnya. Ada juga yang berpendapat, glokalisasi adalah berfikir global dan bertindak local, atau budaya local akan menyerap pengaruh-pengaruh budaya global dan memperkaya budaya (lokal) tersebut. Glokalisasi menolak hal-hal yang bersifat sangat asing, menyaring budaya tersebut, dan dinikmati dalam bentuk yang disesuaikan.
Kajian glokalisasi ingin menunjukkan bahwa saat ini tengah berlangsung perubahan dan pergeseran kultur yang luar biasa oleh masyarakat kontemporer dalam skala global. Glokalisasi dipandang sebagai proses dialektika, sintesis antara “globalisasi” dan “lokalisasi”. Oleh karena itu Glokalisasi bukanlah pertentangan antara globalisasi dan lokalisasi, tapi keduanya berjalan bersama-sama.
Glokalisasi dalam konteks Indonesia terjadi pencampuran budaya dalam ekonomi kreatif seperti dilakukan pada musik, film, makanan, pakaian, bahasa dan lainnya. Dalam bidang budaya dapat dilihat bahwa, bentuk glokalisasi budaya popular saat ini hampir semuanya dikemas dalam budaya lokal, Salah satunya adalah JKT48.
Tentang JKT48
JKT48 merupakan bentuk budaya yang kontemporer, dimana hadir dengan ciri khasnya mewarnai industri musik Indonesia beraliran J-pop. Kemunculanya tahun 2011, berhasil menciptakan sebuah hegemoni budaya Jepang secara masif. JKT48 adalah bentuk idol grup yang berafiliasi atau “sister” dari sebuah kelompok idol grup Jepang bernama AKB48.
AKB48 sendiri merupakan kepanjangan dari Akihabara, dan grup ini memang dikonsepkan sebagai kelompok idol yang melakukan performa teater di Akihabara, Tokyo, Jepang. Sedangkan JKT48 merupakan kependekan dari kata Jakarta, ibukota Indonesia. Idol Grup tersebut memiliki banyak anggota atau disebut member. Kurang lebih 59 orang yang dibagi menjadi 4 Tim yaitu tim J, tim K3, tim T, dan tim Trinee.
Berawal dari adanya AKB48 yang ingin melakukan ekspansi bisnis ke luar Jepang dan didukung oleh program pemerintah Jepang “Cool Japan” AKB48 bisa mewujudkan hal tersebut. Hal itu didukung dengan adanya pasar yang menjanjikan untuk menjual produk budaya Jepang di Indonesia serta kejelian melihat celah bisnis yang belum ada di Indonesia. Cool Japan sendiri adalah sebuah program dari Ministry of Economy, Trade and Industry yang bertujuan untuk menyebarkan dan menjual produk budaya Jepang untuk memenuhi kepentingan ekonomi Jepang dan menguatkan pengaruh Jepang di dunia. Di Indonesia AKB48 yang diproduseri oleh Yasushi Akimoto berhasil membawa sesuatu yang baru melalui JKT48 dan menjadi angin segar unutk disukai oleh kebanyakan masyarakat Indonesia terutama remaja bahkan orang dewasa.
JKT48 yang beranggotakan perempuan muda Indonesia, dilatih dengan prinsip-prinsip Jepang untuk menjadi seorang idola yang bisa dijadikan panutan bagi banyak orang. Hal ini menjadi menarik karena sebelumnya masyarakat Indonesia memang bisa menerima produk-produk Jepang dengan mudah seperti anime (kartun Jepang), Manga (komik Jepang) atau superhero Jepang yang sudah sangat populer mulai dari tahun-90an. Dengan adanya budaya populer Jepang yang sebelumnya sudah ada di Indonesia, masyarakat Indonesia bisa dengan mudah menerima budaya pop Jepang yang lain salah satunya adalah produk budaya pop Jepang yang bernama “Idol Grup” yang di wujudkan melalui JKT48 dengan jargon “Idol You Can Meet” yang berarti para fans dapat bertemu dangan idolanya setiap hari karena JKT48 mengadakan pertunjukan rutin di Theater JKT48.
Glokalisasi dalam JKT48
Pendekatan yang dilakukan untuk melihat Glokalisasi yang ada didalam JK48 adalah dengan melalui 3 bagian yaitu JKT48 sebagai Produsen, fans JKT48 atau yang biasa disebut wota sebagai konsumen, dan media. Perbedaan yang ada antara budaya Jepang dan Indonesia membuat AKB48 berusaha menyesuiakan diri dalam bisnis industry music dengan melakukan Glokalisasi.
Sebagai produsen glokalisasi dalam JKT48 bisa dilihat melalui kebijakan AKB48 yang mengharuskan hanya remaja perempuan yang tinggal di Indonesia yang bisa mengikuti audisi JKT48. Walaupun nantinya akan ada proses transfer member dari AKB48 ke JKT48. Penerapan standart “cantik ”JKT48 juga disesuaikan dengan kecantikan Jepang (kawaii) dengan cantik ala Indonesia yang menjadikannya sebagai sebuah daya tarik utama dari penampilan JKT48. Bisanya dengan ciri kulit putih, rambut lurus dll. Pun lagu yang dinyanyikan oleh JKT48 adalah lagu-lagu AKB48 yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia untuk target audiens yang merupakan masyarakat Indonesia bisa mengerti dan menerima lagu-lagu yang dinyanyikan.
Dari segi kostum ketika tampil disebuah panggung, JKT48 juga melakukan penyesuain berdasarkan norma kesopanan berpakaian di Indonesia. Bahkan ada pula event yang diadakan pihak JKT48 yang mengusung tema batik yang menjadi ciri khas budaya Indonesia. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) sendiri telah menetapkan batik sebagai warisan budaya milik Indonesia sejak tahun 2009. Adapula kostum JKT48 mengusung konsep kebaya yang merupakan jenis busana yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa, khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta, Jawa Tengah. Kebaya tersebut tentu disesuaikan dengan tema yang lebih modern dan lebih colorfull dipadukan dengan batik sehingga JKT48 mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat, bahkan mendapatkan suatu added value tersendiri.
Lebih lanjut penyesuian budaya yang dilakukan adalah dalam sesi pemotretan, jika di AKB48 terdapat sesi pemotretan dengan bikini, dalam JKT48 hal tersebut dihilangkan karena kurang tepat diterapkan dalam budaya Indonesia yang ketimuran dan menjunjung nilai kesopanan. Perbedaan tersebut jelas terlihat malalui cover album dan photopack para member yang dipasarkan masih dalam batas standart norma di Indonesia.
Selain itu, dalam proses pembuatan videoklip JKT48 mengambil tempat yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah videoklip JKT48 yang berjudul “Angin yang Berhembus” berlokasi di Kawah Putih, Ciwidey. Pengambilan gambar yang dilakukan saat pagi buta membuat lokasi ini terlihat dipenuhi kabut yang pekat. Kawah Putih Ciwidey adalah area wisata alam di Ciwidey, Jawa Barat. Pengambilan lokasi tersebut dimaksudkan unutuk mempromosikan pesona alam yang ada di Indonesia, dan tidak selalu melakukan pengambilan gambar di luar negeri
Pendekatan kedua adalah fans sebagai konsumen. Wota yang merupakan subkultur dari budaya Jepang di adopsi oleh para penggemar JKT48 dengan sangat baik. Budaya pengidolaan di Jepang sendiri sudah ada sejak lama di Jepang yaitu pemujaan terhadap kaisar. Menurut riset yang dilakukan Akita, fanatisme fans terhadap idol juga berkaitan dengan ritual agama Shinto, agama asli Jepang, dimana fans melihat idol sebagai sesuatu yang “pure” atau suci dalam agama Shinto. Fans di Jepang juga seringkali melakukan sebuah tarian yang dimaksudkan untuk menyemangati idol yang sedang tampil di panggung, tarian ini dikenal dengan nama wotagei. Fans JKT48 atau wota di Indonesia juga melakukan hal yang sama dengan fans yang ada di Jepang, yaitu melakukan wotagei. Hal tersebut sejalan bahwa glokalisasi merupakan proses timbal balik antara budaya global dan local.
Diterimanya proses glokalisasi oleh fans JKT48 terlihat ketika fans membeli berbagai merchandise. Misalnya membeli baju, lightstick, photopack, DVD dll. Bahkan fans rela mengeluarkan banyak uang nya untuk melakukan vote agar idol yang diingikan masuk dalam senbatsu (pemilihan member yang layak membawakan sebuah single-lagu). Keuntungannya? Jelas banyak, terutama bagi member sendiri. Menjadi Senbatsu berarti menandakan mereka memiliki banyak fans dan bentuk prestasi. Bagi fans, member yang diidolakannya bisa terpilih menjadi kebanggaan tersendiri atas support yang diberikan. Bahkan wota dalam level “dewa” bisa menghabiskan jutaan uangnya hanya untuk melakukan vote tersebut.
Fans memiliki kebebasan dalam memilih membernya sendiri. Para member memilki karakter kecantikan kelucuan yang berbeda, oleh karena itu fans dapat memilih oshi-nya sesuai “seleranya”. Seorang wota juga bisa mengamati perkembangan oshinya mulai dari awal hingga menuju puncak. Hal ini juga sebagai bentuk distingsi dengan grup/girl band lainnya di Indonesia. JKT48 menawarkan “proses” sedangkan grup/girlband lebih menawarkan “produk yang jadi” atau sempurna. Sehingga ketika salah satu anggota keluar maka bisa dikatakan grup tersebut tidak lagi kohesif atau kompak, sedangkan JKT48 ketika member grad atau mengundurkan diri fans bisa memilih oshi lain, sedangkan pikah internal JKT48 rutin melakukan audisi sebagai bentuk regenarsi.
Ketiga, pendekatan media. JKT48 menjadi mudah untuk diterima masyarakat karena adanya media. Media seperti acara musik, film, iklan, talk show, dan variety show di televisi maupun radio mampu meningkatkan popularitas. Media menjadi sarana dalam penyampain visi misi JKT48 yang membawa kultur budaya local sehingga audiens lebih bisa menerima JKT48 sebagi repersentasi budaya Indonesia,
Kemajuan teknologi komunikasi juga menjadi peluang member untuk berinteraksi dengan para fansnya, salah satunya adalah pemanfaatan media social: Twitter, Instagram, Google+ dll. Para member setiap hari menyapa fansnya di media social, melalui unggahan foto ataupun video. Adanya perkembangan media komunikasi mengutukngkan, apalagi letak geografis Indonesia yang sangat luas, sehingga fans yang bertempat tinggal jauh masih memungkinkan untuk “berinteraksi” dengan idolanya tanpa harus bertemu secara langsung.
Media juga sebagai ruang para fans yang aktif untuk mendiskusikan topik seputar perkembangan member JKT48, mulai dari prestasi, hal-hal yang lucu, aneh, samapi skandal. Ya, skandal member JKT48 yang terbukti memilki pacar atau kekasih, dapat menurunkan seputasi member tersebut, konsekuensinya bisa perpindahan tim sampai dikeluarkan dari JKT48.
Implikasi glokalisasi
Ada beberapa budaya Jepang yang ditolak masuk dalam Indonesia. Misalnya kostum dengan rok pendek, perilaku wota yang kurang bisa diterima atau dianggap hanya menghabiskan uang dan waktu, serta fanatisme berlebihan yang dilakukan para wota menimbulkan tanggapan-tanggap negatif terhadap budaya Jepang baik di dalam JKT48 sendiri atau di sekitar JKT48.
Disatu sisi adanya glokalisasi memberi warna baru dalam industri musik dan industri hiburan di Indonesia. Eksistensi JKT48 dapat meingkatkan kualitas hubungan bilateral, baik antara Indonesia dan Jepang yang diwujudkan dengan seringnya JKT48 mengisi acara-acara budaya baik di Jepang maupun di Indonesia yang dilaksanakan dengan hubungan kerjasama antara pemerintah.
Fenomena glokalisasi merupakan kabar ynag baik bagi kemandirian budaya masyarakat Timur seperti di Indonesia. Artinya, di era globalisasi sekarang, masyarakat Timur tak hanya dapat bertindak selaku konsumen dan menerima secara pasif berbagai budaya yang berasal dari Barat, melainkan dapat pula menjadi produsen dan aktif mereproduksi beragam budaya bagi masyarakat dunia. Dan tak menutup kemungkinan, apabila masyarakat Timur tak henti-hentinya mmenghasilakan inovasi baru, maka globalisasi tak lagi selalu di asosiasi dengann budaya barat, melainkan bisa juga bentuk “easternisasi” budaya global.
Globalisasi bukanlah suatu hal yang menakutkan dan harus dihindari, karena masalah dari interaksi global adalah akan selalu terjadi, maka dari itu adaptasi dari cara pandang global ke dalam kondisi local diperlukan melalui penyesuaian budaya (glokalisasi). Bentuk pandangan kritis terhadap cepatnya perkembangan globalisasi bukan berarti bahwa hegemoni budaya global dapat menyingkirkan budaya lokal yang ada di dalam masyarakat. Namun sebaikanya, ketika budaya global dan budaya lokal dapat berjalan bersamaan berimplikasi pada munculnya pilihan budaya yang lebih variatif dan tidak monoton.
Namun disisi lain, budaya popular semakin kehilangan makna, sama seperti ungkapan kasih sayang, semakin sering diucapkan maka semakin hambar rasanya dan menjadi biasa. Analogi tersebut barangkali dapat menggambarkan glokalisasi saat ini, semakin sering budaya di komodifikasikan maka makna budaya, yang moralis dan yang humanis akan semakin direduksi dan melegitimasi masyarakat sekarang menjadi masyarakat yang lebih konsumtif.
Oleh Rino Andreas
Referensi :
Mahardika , A., & Sugiono, M. (2015). Globalisasi Budaya dlam Bisnis Hiburan Jepang-Indonesia (Studi Kasus: JKT48).(Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada).
Marlina, N. (2015). Eksistensi Potensi Lokal dalam Fenomena Glokalisasi: Belajar dari Batik Kayu Krebet. GOVERNMENT: Jurnal Ilmu Pemerintahan, 8(2), 105-116.
Setyoko, T., Ranteallo, I. C., & Nugroho, W. B. Mcdonaldisasi dan Dehumanisasi Pegawai Restoran Cepat Saji di Bali.
Risyadi, R. W. (2017). Dampak Keberadaan JKT48 Terhadap Gaya Hidup Konsumtif Fans JKT48 Dikalangan Mahasiswa (Studi Kasus di Komunitas JFUIN) (Bachelor’s thesis, FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).
Soeroso, A., & Susuilo, Y. S. (2008). Strategi Konservasi Kebudayaan Lokal Yogyakarta. Jurnal Manajemen Teori dan Terapan| Journal of Theory and Applied Management, 1(2).
Soukotta, F. K., & Hip-Hop, S. Glokalisasi Budaya Populer Pada Dalam Musik Rap Budaya Lokal Yogya Hip-Hop Foundation.